Ditemukan Lagi, Peluru Nyasar ke DPR Harus Diusut Tuntas

Peluru nyasar ke DPR harus diusut tuntas. Foto: ist.
Jakarta - Peluru nyasar ke gedung DPR kembali terjadi. Pada Rabu (17/10), kejadin tersebut menimpa ruangan fraksi Partai Demokrat dan Fraksi Partai Amanah Nasional di lantai 10 dan 20 gedung DPR RI.

Ruang anggota DPR RI dari Partai Demokrat Vivi Sumantri Jayabaya yang ada di lantai 10 ditemukan proyektil peluru. Pun demikian dengan ruangan anggota DPR RI dari PAN Totok Daryanto di lantai 20.

Totok Daryanto.
Bahkan Rabu (17/10) kejadian tersebut terulang di ruang Khotibul Umam Wiranu, anggota DPR RI dari Partai Demokrat. Polisi kemudian sudah menyisir dan memeriksa ruangan-ruangan itu. Namun belum ada keterangan dari Kepolisian soal itu.

Anggota DPR RI dari Fraksi PAN Totok Daryanto mengatakan, kejadian ini harus diusut tuntas dan transparan. Hal ini karena ini gedung DPR di mana merupakan tempat strategis dan harus dilindungi. 

Totok juga meminta agar Kepolisian mengungkap dengan jelas dan memberikan keterangan kepada masyarakat secara transparan mengenai latar belakang adanya peluru nyasar itu.

Sementara itu Ketua Fraksi Partai Demokrat Edhy Baskoro Yudhoyono atau akrab disebut Ibas, mengatakan pihaknya menyesali ada kejadian ini, lantaran hal itulah pihaknya mendesak agar keamanan terhadap anggota DPR RI dan pegawai di lingkungan DPR RI harus ditingkatkan.

Peluru Sama 

Kepolisian menengarai ada kesamaan proyektil peluru dengan kejadian Hari Senin (15/10), tetapi untuk identik atau tidak, akan lakukan scientific investigation, uji balistik, untuk pembandingnya apakah sama dan identik dengan kejadian peristiwa Senin itu. Hal tersebut diutarakan Kapolres Jakarta Pusat Kombes Roma Hutajulu.

Sementara itu Kepala Bidang Balistik dan Metalurgi Forensik Puslabfor Mabes Polri Kombes Ulung Sanjaya menyebut peluru yang ditemukan sama. Peluru ini berasal dari tembakan orang yang kini menjadi tersangka, yakni IAW dan RMY.

Pelaku menggunakan senjata yang berada di gudang saat berlatih di lapangan tembak, sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya oleh Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta pada jumpa pers, Selasa (16/10).

Nico saat itu mengatakan tersangka IAW gugup karena senjata yang dipakainya menggunakan switch customize. IAW tak biasa menggunakan senjata yang dimodifikasi.

"Latar belakang ini karena tidak sengaja akibat yang bersangkutan gugup pada saat menekan pelatuk di mana senjata ini diubah yang standar ditambahin alat namanya switch customize, sehingga bisa berubah menjadi otomatis, 4 peluru atau 5 peluru yang masuk langsung bisa lepas," kata Nico.

Pada saat itu, lanjut Nico, tersangka mengisi empat peluru. Kemudian, begitu ditembakkan, sempat naik ke atas, sehingga peluru itulah yang didapat di 1313 dan 1601. (AS)

Tidak ada komentar