Tahu-tempe pun Terimbas Dolar

Harga kedelai impor di sejumlah daerah naik. (Foto:antara)
Jakarta - Pelamahan rupiah yang menembus level Rp.15.000 per dolar Amerika Serikat membawa dampak signifikan bagi kenaikan barang, terutama yang bahan bakunya masih impor. Tak terkecuali pada produk pangan yang masih tergantung pada pasokan luar negeri seperti kedelai.

Hal tersebut dirasakan di sejumlah daerah, salah satunya di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Harga jual kedelai impor di Kudus naik Rp100 per kilogramnya, yaitu dari Rp7.300 per kilogram menjadi Rp.7.400 per kilogramnya.

Kondisi ini menurut Ketua Primer Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Primkopti) Amar Ma'ruf (6/10) membawa dampak bagi pengusaha tahu-tempe. Kenaikan harga kedelai impor tersebut menjadikan para pengusaha tahu-tempe menurunkan permintaan kedelainya. Dari sebelumnya 17 ton per hari menjadi 15 ton per hari.

Kondisi tersebut diduga lantaran pengusaha tahu-tempe melihat perkembangan pasar produknya. Apakah permintaan tahu-tempe menurun ataukah tidak, sehingga mereka menurunkan permintaan kedelai impor untuk menekan ongkos produksinya.

Kenaikan kedelai impor tersebut tidak diikuti oleh kedelai lokal. Kedelai lokal harganya lebih murah, yakni Rp.7.250 per kilogramnya. Namun demikian, karena kualitasnya kurang maka pengusaha cenderung memilih kedelai impor.

Stok kedelai lokal pun masih melimpah. Di gudang, kata Amar Ma'ruf, ada sekitar 65 ton dan bisa bertambah lagi sesuai permintaan. Kedelai lokal ini biasanya sebagai bahan campuran untuk pembuatan tahu-tempe. Pemasok kedelai lokal saat ini adalah dari Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Amar Ma'ruf mengungkapkan di Kabupate Kudus saat ini ada sekitar 300an pengusaha tahu-tempe, yang ada di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Kota, Jekulo, Kaliwungu, Dawe, Bae, Gebog, Undaan, Mejobo, dan Jati.

Kenaikan harga kedelai impor juga dirasakan oleh pengusaha tahu-tempe di wilayah lain, seperti di Pekanbaru, Riau. Meskipun harga kedelai impor naik Rp.15.000 per karung, yakni dari Rp.385.000 per karung menjadi Rp.400.000 per karung, namun mereka enggan menaikkan harga jual tahu-tempenya.

Produsen produk turunan kedelai mulai was-was. (Foto:ProKal)
Gabungan Koperasi Produsen Tahu-tempe Indonesia (Gakoptindo) menyebutkan ketergantungan terhadap kedelai impor untuk produk tahu-tempe cenderung naik. Pelemahan rupiah membawa dampak bagi usaha mereka. Bila mereka menaikkan harga jual tahu-tempe takut konsumen tak mau membelinya, sehingga mereka cenderung tidak menaikkan harga jualnya.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian melansir produksi kedelai tertinggi pada 2018 terjadi saat April 2018, sebesar 116.02 ribu ton biji kering dengan luas panen 82.700 hektare. Produksi kedelai dalam negeri lebih sedikit dari kebutuhan konsumsinya. Namun, Kemtan mengklaim produksi dalam negeri sudah mampu memenuhi kebutuhan dua kali lipat dari 17% pada 2017 menjadi 34% pada 2018. (AN/Hw)

Tidak ada komentar