Kiai Asep Bantah Rekomendasikan Haris ke Rommy

Romahurmuziy,  mantan Ketua KPK. Foto: Ist. 
Gresik - Saat diperiksa sebagai tersangka di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), mantan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy menyebut-nyebut mengenai rekomendasi Haris Hasanudin menjadi Kakanwil Kemenag Jatim dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Kiai Asep Saifuddin Chalim (Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah).

Setelah namanya disebut Romahurmuziy,  Kiai Asep Saifuddin Chalim membantah keterangan itu. Namun ia tidak membantah nila Haris tersebut adalah salah satu santrinya. 

Haris mondok untuk menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Jalan Siwalankerto Surabaya selama bertahun-tahun. 

Kiai Asep menegaskan kembali bahwa dirinya tidak pernah memberikan rekomendasi kepada Romahurmuziy untuk memilih Haris. 

Lebih lanjut disebutkannya,  kalimatnya hanya bahwa dia adalah santri saya sejak jadi mahasiswa bertahun-tahun, saat Haris menjadi mahasiswa IAIN mengaji ke pondok pesantrennya. 
Apa yang dikatakan Kiai Asep ke Romahurmuziy? “Dia (Haris, red) murid saya, hanya itu. Enggak ada rekom. Saya besok akan ke Jakarta untuk memberikan klarifikasi kepada KPK. Tapi saya tidak akan melaporkan Rommy atas tudingannya,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaku akan mengklarifikasi tudingan mantan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy (Romy) soal keterkaitan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Kiai Asep dalam proses pengisian jabatan di Kanwil Kementerian Agama Jatim.

Menurut Febri, tersangka bisa saja menyebut pihak lain dalam kasus yang menjeratnya. “Tentu KPK punya tanggung jawab untuk melihat ada atau tidak relevansinya dengan pokok perkara,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah, Jumat (22/3/2019).

Dia menambahkan, pihaknya juga mempersilakan Rommy mengajukan diri menjadi justice collaborator atau tersangka yang bekerjasama dengan penegak hukum. Namun, dia mengingatkan, informasi tersebut harus didasari bukti.

“Tapi ingat, informasi yang disampaikan tentu harus informasi yang benar, didukung juga dengan bukti yang lain, dan informasi itu jangan setengah hati,” ujar Febri.(AR/NS)


Tidak ada komentar