Laba Bersih BNI di Kuartal I 2019 Naik 11,5 Persen

Jajaran direksi BNI saat memaparkan kinerja kuartal I 2019. Foto: Humas BNI.
Jakarta - Kinerja PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI pada Kuartal I 2019 ini terbilang moncer. Berdasarkan data yang dikeluarga BNI, bank pelat merah itu membukukan laba bersih sebesar Rp4,08 triliun pada kuartal I-2019 atau naik 11,5% secara year on year (YoY). Laba bersihnya pada Kuartal I 2018 lalu sebesar Rp3,66 triliun.

Kinerja keuangan yang moncer itu, menjadikan BNI lebih percaya diri. BNI yakin bisa mempertahankan margin bunga bersih (NIM) di level 5 persen hingga akhir tahun 2019 ini.

Keoptimisan itu diutarkaan Direktur Keuangan BNI Anggoro Eko Cahyo. Kepada media Anggoro mengatakan, sampai Maret 2019 NIM BNI berkisar 5 persen. "Kami tetap akan sesuai guidance 5,2–5,3% sampai akhir tahun,” tandas Anggoro Eko Cahyo saat konferensi pers Kinerja BNI Kuartal I-2019 di Kantor Pusat BNI, Jakarta Pusat, Rabu (24/4).

Direktur Kepatuhan BNI Endang Hidayatullah menambahkan, kenaikan laba bersih ini ditopang oleh kenaikan Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) sebesar 4,3% YoY pada kuartal I-2019 ini. Dari Rp8,50 triliun pada Maret 2018 menjadi Rp8,86 triliun pada Maret 2019.

“Dengan  pertumbuhan NII tersebut dan ditambah oleh peningkatan pendapatan non bunga (Fee Based Income), efisiensi biaya operasional, serta terjaganya kualitas aset, BNI mampu mencatatkan pertumbuhan Laba Bersih sebesar 11,5% YoY, menjadi Rp 4,08 triliun pada akhir Maret 2019,” tambah Endang.

Pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 18,6 persen, pada Kuartal I 2019 YoY, ini menjadikan pendapatan bunga (interest income) naik 12,1 persen. Endang mengatakan, total penyaluran kredit pada Maret 2019 mencapai Rp521,35 triliun, sedangkan pada periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp439,46 triliun.

Lebih lanjut Endang menjelaskan, pertumbuhan kredit BNI didorong oleh penyaluran kredit korporasi swasta yang tumbuh 23,3% (YoY) menjadi Rp163,61 triliun pada Maret 2019. Sementara kredit yang disalurkan ke BUMN disebutkan tumbuh 26,7% (YoY) menjadi Rp105,72 triliun.

“Kedua segmen ini berkontribusi sebesar 51,7% terhadap total Kredit BNI, dengan pembiayaan pada sektor-sektor unggulan, terutama sektor manufaktur dan infrastruktur. Penyaluran kredit ke sektor Manufaktur meningkat 17,5% (yoy), dan Infrastruktur tumbuh 10,3% (yoy),” sambung Endang.

Di samping pembiayaan kepada segmen Korporasi, BNI juga melaporkan penyaluran kredit segmen medium tumbuh 8,4% (yoy) menjadi Rp72,72 triliun pada Maret 2019. Kenaikan penyaluran kredit juga terjadi pada segmen kecil, sebesar 18,5% atau menjadi Rp68,42 triliun, ditopang oleh pertumbuhan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar 30,2%.

“Sebagai salah satu strategi pertumbuhan pada kedua segmen ini, BNI fokus pada Supply Chain Financing yaitu pemberian kredit kepada institusi-institusi yang memiliki hubungan bisnis dengan debitur segmen Korporasi BNI,” ucap Endang.

Selain segmen korporasi, medium, dan kecil, pertumbuhan kredit BNI juga ditopang oleh meningkatnya penyaluran kredit konsumer. Di mana, BNI Fleksi (Payroll Loan) masih menjadi kontributor utama dengan meningkat 25,0% (yoy) dari Rp19,07 triliun pada Maret 2018 menjadi Rp 23,85 triliun pada Maret 2019. Sementara penyaluran kredit properti yakni BNI Griya masih yang terbesar dari aspek komposisi yaitu 51,8% dari total kredit konsumer, dengan pertumbuhan sebesar 9,4%.

Di samping jumlah kreditnya meningkat, BNI mengklaim kualitas kreditnya turut menunjukkan kenaikan. Ditunjukkan oleh rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) yang terjaga pada level 1,9%. Dari perbaikan kualitas kredit tersebut, BNI pun menyatakan mampu menurunkan credit cost dari 1,7% pada Maret 2018 menjadi 1,3% pada Maret 2019.

“Sementara itu, coverage ratio juga masih meningkat dari 148,0% pada akhir Maret 2018 menjadi 153,1% pada Maret 2019 untuk  mengantisipasi potensi penurunan kualitas aset di masa mendatang,” tuturnya.

Kemampuan BNI melakukan ekspansi kredit pada tiga bulan pertama tahun 2019, jelas Endang tidak terlepas dari dukungan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun sebanyak Rp575,75 triliun pada Maret 2019. Atau naik 16,8% (yoy).

Penghimpunan dana tersebut pun, ungkap Endang diiringi likuiditas BNI yang terjaga. Di mana Loan to Deposit (LDR) BNI per Maret 2019 masih di angka 91,3%. Ketika likuiditas perbankan secara keseluruhan berada di level 94% per Januari 2019. Kondisi likuiditas ini pun diyakini dapat mendukung pertumbuhan kredit BNI ke depan.

“Berbagai strategi terus dilakukan untuk menghimpun dana murah. Pertama, BNI terus meningkatkan hubungan baik dengan institusi-institusi BUMN dan pemerintah serta mengembangkan layanan digital banking,” ujarnya.

Endang menyebutkan, keberhasilan upaya BNI dalam menghimpun dana ini dapat dibuktikan dengan bertambahnya jumlah rekening dari 37,6 juta pada Maret 2018 menjadi 44,9 juta rekening pada Maret 2019.


“Kedua, BNI juga meningkatkan jumlah branchless banking atau yang dikenal dengan Agen46, yaitu agen-agen yang menjadi perpanjangan tangan BNI dalam melayani masyarakat yang tidak memiliki akses mudah ke outlet BNI. Pertumbuhannya dari 82.000 Agen46 menjadi 117.000 agen,” papar Endang. (NS)

Tidak ada komentar