RIP Ir. Ciputra; Begawan Properti Berpulang

Ir. Ciputra meninggal dunia di Singapura pada pukul 01.05 Waktu Singapura.
Jakarta - Pagi ini dunia properti kehilangan sosok yang selama ini menjadi ikon dunia properti. Dialah Ir. Ciputra. Pendiri Ciputra Group ini dikabarkan meninggal dunia di Singapura sekitar pukul 01.05 waktu setempat.

Menurut informasi, jenazah Ciputra akan dibawa pulang ke Indonesia. Untuk prosesi pemakaman dan tempatnya, belum ada informasi lebih jelas.

Perlu diketahui, sejarah hidup Ir. Ciputran menarik untuk dicermati. Ciputra bersekolah di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas Frater Don Bosco di Manado. Setamatnya dari Sekolah Menengah Atas, ia meninggalkan desanya menuju Jawa. Ia kemudian kuliah di Institut Teknologi Bandung. Pada tingkat empat, ia bersama Budi Brasali dan Ismail Sofyan mendirikan usaha konsultan arsitektur bangunan yang berkantor di sebuah garasi. Baru kemudian setelah Ciputra meraih gelar insinyur pada tahun 1960, ia pindah ke Jakarta.

Ciputra mengawali karirnya di Jaya Group, perusahaan daerah milik Pemda DKI, setelah dia menamatkan kuliahnya di ITB. Di perusahaan properti ini, dia berhasil meniti karir hingga menjabat sebagai direksi sampai usia 65 tahun, dan setelah itu sebagai penasihat. Di perusahaan tersebut, Ciputra diberi kebebasan untuk berinovasi, termasuk di antaranya dalam pembangunan proyek Ancol.

Kemudian bersama dengan Sudono Salim (Liem Soe Liong), Sudwikatmono, Budi Brasali dan Ibrahim Risjad, Ciputra mendirikan Metropolitan Group, yang membangun perumahan mewah Pondok Indah dan Kota Mandiri Bumi Serpong Damai. Pada masa itu, Ciputra duduk sebagai direktur utama di Jaya Group dan di Metropolitan Group sebagai presiden komisaris. Akhirnya Ciputra mendirikan grup perusahaan keluarga, Ciputra Group.

Sebagai pengusaha, Ciputra pernah mengalami kondisi pasang-surut dalam bisnis properti. Apalagi, bisnis real estate ini butuh modal tidak sedikit. Untuk menjalankan sebuah proyek, Ciputra mengaku harus meminjam modal dari banyak bank.

"Tidak mungkin menggunakan modal sendiri," kata Ciputra. Setelah sukses menyelesaikan pembangunan Taman Rekreasi Jaya Ancol, kehebatan ciputra dalam dunia properti semakin diakui. Tak ayal, ia lantas dipercaya untuk menggarap beberapa proyek. Salah satu proyek yang sempat diragukan banyak orang adalah Perumahan Bintaro Jaya.

Mereka pesimistis lantaran lahan yang hendak dipakai adalah hasil patungan Metropolitan Development dan Jaya Obayashi, perusahaan dari Jepang. Padahal, belakangan, Jaya Obayashi dihinggapi banyak masalah.

Di negeri asalnya, Obayashi tersandung masalah yang menjadikan proyek Bintaro Jaya terkatung-katung. "Saat itu, semua jajaran direksi Metropolitan Development juga berkeinginan untuk menghentikan proyek itu," kata Ciputra. Namun berbekal naluri pengusaha, ciputra menggunakan haknya sebagai Direksi Utama untuk meneruskan proyek tersebut. Sekitar 1980-an, Ciputra berhasil menyelesaikan 200 unit rumah pertama di Bintaro Jaya. Hingga kini proyek itu ternyata berlanjut.

Keberhasilan itu terus mengawali kesuksesan perjalanan ciputra sebagai pengembang. Sampai pada akhirnya, ia mampu mendirikan kelompok usaha yang kelima, ciputra Development (CD), pada awal 1990.

Grup usaha ini berawal dari PT Citra Habitat Indonesia, yang seluruh sahamnya ia akuisisi dan namanya diubah menjadi CD. ciputra menjadi direktur utama dan memasukkan anak dan menantunya dalam jajaran direksi. Perkembangan CD terus meningkat.

Pada Maret 1994, CD sebagai usaha yang paling muda malah sudah berani go public di pasar modal. Di sekitar tahun itu juga, ciputra mulai ekspansi di bidang properti ke Vietnam.

Namun, hari tidak selamanya cerah. Saat krisis moneter melanda Indonesia pada 1997, Ciputra juga kena imbas. Saat itu mungkin menjadi tahun yang kelam bagi semua konglomerat di tanah air, termasuk Ciputra. Orang tentu masih ingat adanya penarikan dana secara tiba-tiba dalam jumlah yang besar oleh para investor asing yang didorong pesimisme prospek perekonomian regional di Asia Tenggara yang memburuk. Selain itu, mata uang rupiah yang melemah secara drastis karena aksi beli dolar juga membuat perekonomian kian terpuruk. Bank Indonesia mencatat, pertumbuhan ekonomi 1997 merosot menjadi 4,91%. Bahkan pada triwulan III tahun 1998 pertumbuhannya minus 17,13%, turun drastis dari rata-rata pertumbuhan tiga tahun terakhir sebesar 7,9%. Tidak sedikit konglomerat Indonesia yang tidak bisa tidur nyenyak saat itu.

Bahkan, banyak pula konglomerat melarikan diri ke luar negeri dan meninggalkan utang-utangnya. Namun, ciputra tetap tinggal di Indonesia dan menunjukkan integritas pribadinya dalam menghadapi badai ekonomi.

"Saya percaya krisis bisa dilewati meskipun harus mempertaruhkan semua bisnis yang dibangun sejak 1960," katanya.

Berbagai strategi ditempuhnya untuk mempertahankan bisnisnya. Di antaranya, dengan merestrukturisasi pinjaman dengan tanpa memunculkan kontroversi. Cara itu terbukti ampuh untuk melewati badai krisis tersebut. Pada 2004, kelompok bisnis yang ia dirikan, Pembangunan Jaya, Metropolitan, dan Group Citra tetap kokoh berdiri. Bahkan, tujuh tahun paska krisis moneter, omsetnya sudah meningkat dua kali lipat dari nilai sebelum krisis.

"Waktu itu sudah mencapai Rp 5 triliun," katanya.

Ia berharap, dalam 1-2 tahun mendatang, nilainya bisa mencapai Rp 10 triliun. 

Tidak ada komentar