http://www.bankdki.co.id/en/product-services/layanan/modern-banking/jakone-mobile-bank-dki

Bunga Utang Tinggi, Membebani Pemerintahan Mendatang

Ekonom Senior Dr. Rizal Ramli mengkritisi utang Indonesia yang akan membebani pemerintahan selanjutnya. Foto:RM.
Jakarta - Ekonom senior Rizal Ramli menilai pemerintah saat ini dengan mudah mencetak utang dengan bunga yang tinggi. Kondisi tersebut bisa menjadi masalah di kemudian hari.

“Kalau kita analisis, semakin lama surat utang yang diterbitkan, yield-nya semakin tinggi. Itu beresiko buat pemerintahan siapapun yang akan datang,” ujar Rizal Ramli di Jakarta, kemarin (30/1).

Sementara Direktur Konsolidasi Nasional Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Fuad Bawazier, menilai skema utang yang dilakukan pemerintah dengan menjual Surat Berharga Negara (SBN) perlu dievaluasi.

Membengkaknya utang pemerintah disebabkan karena penjualan SBN.

“Seperti yang saya katakan beberapa kali, SBN ini umurnya baru sekitar 11 tahun. Tapi angkanya sudah mencapai Rp3.600 triliun,” ujar Fuad.
Sebenarnya, lanjut dia, jumlah utang pemerintah tidak naik signifikan dengan pinjaman utang luar negeri model lama. Adapun utang pemerintah hanya Rp800 triliun sebelum diperkenalkannya mekanisme penjualan SBN.

Dia berpendapat, dari total utang pemerintah saat ini, sebesar Rp4.400 triliun, sebagian besar berasal dari penjualan SBN. Sedangkan sisanya dari sistem utang model lama seperti pinjaman utang luar negeri. “Sistem model lama itu hanya 18%. Dan 82% komponen utang (SBN),” imbuhnya.Sehingga, dia meyakini bahwa kemampuan pemerintah untuk membayar utang terancam jika tak segera dievaluasi. Sebab, pembeli SBN meminta bunga yang sangat tinggi.

“Kalau enggak tinggi, saya enggak mau beli surat utang kamu. Karena bunganya itu praktis agak lama, tertinggi di Asia Pasifik,” bebernya.

Berdasarkan data Asian Bonds Online, tingkat bunga utang Indonesia tercatat sebesar 8,12 persen. Sementara bunga utang Filipina 6,47 persen, Vietnam 4,88 persen, Malaysia sebesar 4,07 persen, Thailand 2,27 persen, dan Singapura 2,21 persen.

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengakui tingkat suku bunga surat utang (obligasi) Indonesia bertenor 10 tahun saat ini lebih tinggi dari beberapa negara tetangga di kawasan Asia Tenggara (ASEAN). “Obligasi Indonesia lebih tinggi bunganya daripada Malaysia dan Thailand,” ucap Darmin.

Meski begitu, ia menilai ada faktor-faktor tertentu yang membuat tingkat bunga utang Indonesia lebih tinggi dari sesama negara tetangga. Namun, ia enggan merinci faktor tersebut.

“Setiap negara itu tidak sama cara menghitung (tingkat bunga) obligasinya,” katanya.

Di sisi lain, Darmin memastikan tingkat bunga utang Indonesia yang tinggi tidak mengkhawatirkan.

Tingginya tingkat bunga surat utang suatu negara, menurut dia, tidak mempengaruhi rasio penggunaan utang. Sebab, hal ini merujuk pada nilai Produk Domestik Bruto (PDB) masing-masing negara.(IND)


Tidak ada komentar